Minggu, 21 April 2013

KARYA SASTRA SEBAGAI RESPONS SEKALIGUS PENCERAPAN SOSIAL



Proses kreativitas, dalam pengertian yang paling elementer sesungguhnya telah tertanam sejak masa kanak-kanak, sejak usia bermain-main. Pada usia seperti ini, individu telah belajar menentukan pilihan terhadap objek-objek yang sesuai dengan seleranya. Individu juga mulai belajar menentukan sikap, yaitu pola-pola perilaku yang tidak mesti sama dengan orang lain, baik dengan teman- teman sebaya maupun orang-orang dewasa, bahkan juga dengan orang tuanya. Dalam setiap individu mulai tertanam dasar-dasar penghargaan bagi dirinya sendiri, pengakuan terhadap ego, yang sekaligus disertai dengan terbentuknya ciri-ciri personalitas, proses maturasi, khususnya proses kreativitas.
Proses kreativitas, khususnya dalam bidang karya seni,  jelas merupakan dialog-dialog internal, sebagai kontemplasi individual, sebab karya seni adalah penghargaan, pengakuan, dan penilaian terhadap sifat-sifat etis, estetis, dan Ilahi, yang kemudian dikonstruksikan dalam suatu kerangka ekspresif. Dengan ciri-ciri di atas, maka karya kreatif mesti didasarkan atas dimensi-dimensi kualitas intrinsik, pemahaman personal, tanpa mempertimbangkan keterlibatan langsung struktur sosialnya.
Respons karya sastra merupakan respons yang khas, sebab didasarkan atas kehidupan sehari-hari, dan sekaligus mentransformasikannya ke dalam bentuk respons literer,dalam bentuk respons metaforis dan imajinatif. Respons sastra memiliki ciri-ciri yang bermacam-macam, antara lain: respons sublimasi, kompensasi, negasi, afirmasi, dan inovasi. Sebagai respons, karya berfungsi untuk mengembangkan salah satu seksi fakta-fakta sosiokultural, agar dapat dikonsumsi dan diapresiasi secara intens oleh masyarakat. Pengarang dipandang subjek yang memiliki kompetensi yang paling memadai untuk mementaskan dan menjelaskan respons-respons tersebut. Sebagai respons sosial, dalam hubungan ini karya sastra identik dengan manifestasi personalitas, intensi, dan peranan-peranan pengarang.
1.                  Peranan Pengarang dan Intensi Autorial dalam Produksi Karya Sastra
Pada umumnya unsur-unsur kepengarangan dikaitkan dengan asumsi struktur rohaniah, seperti: kapasitas intelektual dan logika, kualitasriïoral dan spiritual, fungsi-fungsi didaktis dan ideologis, yang secara keseluruhan diarahkan pada signifi asi yang bersifat positif. Pengarang dianggap memiliki kompetensi ganda, kompetensi dalam merekonstruksi struktur bahasa dan struktur fiksi, sekaligus kapasitas untuk menopang stabilitas sosial. Eksistensi karya sastra dalam hubungan ini terbatas sebagai aktivitas pengarang, tanpa keterlibatan pembaca dan lingkungan sosialnya.
Pengarang merupakan aktor tunggal, personalitas soliter, tanpa menghubungkannya dengan kondisi-kondisi sosial di sekitarnya. Imajinasi dianggap sebagai kapasitas individual, yang dengan sendirinya dihubungkan dengan kualitas psikologisnya.
Eksistensi pengarang dalam struktur sosial menandai mekanisme dialektis infrastruktur material dengan superstruktur ideologis, yaitu sebagai indeks perkembangan sosial ekonomi terhadap stabilitas perkembangan sosial politik dan kulturalnya. Sebagai subjek kreator, eksistensi pengarang, termasuk ilmuwan, tidak semata-mata didominasi oleh kualitas pembawaan oleh genesis-genesis kreativitas yang terkandung dalam struktur psikologis, tetapi juga ditentukan melalui dialektika antara individu dengan masyarakatnya.
Penelitian secara historis juga menunjukkan adanya fluktuasi apresiatif terhadap eksistensi pengarang sebagai subjek kreator. Dalam struktur sosial, pengarang tidak lagi dianggap sebagai figur sentral, dengan kalimat lain, fungsi kreativitas seni disamakan dengan keterampilan lain dalam mekanisme pembagian kerja dan produksi-produksi material. Karya seni pada gilirannya dianggap sebagai pengalihan waktu luang, hiburan, pelarian, dan pelukisan naturalistik sosial, yarig sama sekali tidak mengandung tantangan fundamental terhadap perkembangan sosial.
a)                  Kekeliruan-kekeliruan Biografi Sebagai Genesis Karya Sastra
Bagi masyarakat pada umumnya, pengarang dianggap sebagai individu yang memiliki sejumlah keistimewaan, terutama dari segi kualitas psikologisnya. Apresiasi moral terhadap personalitas pengarang juga diakibatkan dengan adanya kenyataan bahwa dalam struktur sosial ekonomis pada umumnya pengarang termasuk dalam kategori kelas menengah ke atas. Sebaliknya, analisis sosiologis justru memandang proses kreatif sebagai pernyataan-pernyataan sosial.
Subjek pengarang dalam merekonstruksikan tokoh-tokoh dan peristiwa sesungguhnya didasarkan atas definisi hubungan-hubungan sosial, sebagai pernyataan bahwa semesta tokoh dan peristiwa yang diceritakan merupakan dunia yang mesti dipahami bersama-sama dengan orang lain.
Dalam sejarah sastra, studi biografis sudah sangat sering dibicarakan. Boris Tomasevskij (1987: 116-117) memandang studi biografis sebagai genre yang sudah kuno, dan sesungguhnya merupakan bagian penulisan sejarah, sebagai historiografi. Fungsi-fungsi utama karya sastra, terutama dalam pengertiah studi sastra kontemporer adalah menyediakan pemahaman bagi pembaca sastra, bukan bagi sejarawan. Dikaitkan dengan penjelasan Berger dan Luckmann (1973: 85-86), biografi sebagai pendekatan dokumenter dan alegoris berasal dari sedimentasi berbagai pengalaman individu, pengalaman-pengalaman yang tersimpan di dalam kesadaran, yang pada saat-saat tertentu muncul kembali dalam ingatan. Tanpa sedimentasi pengalaman masa lalu, biografi tidak pernah dipahami.
Konteks sosial pengarang mempengaruhi sistem pengetahuannya, dan dengan sendirinya proses kreativitasnya. Di pihak lain, pengalaman-pengalaman pengarang sebagai individu jelas sangat singkat, baik secara sosiopsikologis maupun sosiobiologis. Biografi sebagai pernyataan-pernyataan data mentah, sebagai manifestasi fisikal struktur personalitas merupakan aspek yang inheren, artinya, selalu menampakkan diri dalam proses pemahaman karya.
Dalam kerangka mekanisme produksi sastra, biografi dan personalitas pengarang, termasuk ciri-ciri autorial yang lain, mesti dipertimbangkan sebagai cadangan-cadangan pengetahuan sosial. Artinya, implikasi biografi literer, bukan biografi yang disusun oleh peneliti, mesti dipertimbangkan dalam kerangka relevansi sosialnya.
b)                 Intensi Autorial dan Kematian Pengarang dalam Proses Produksi
Produksi sastra menurut analisis sosiologis dengan sendirinya menganggap imajinasi dan kreativitas, pikiran dan kehendak, emosi dan asumsi, dan berbagai sarana psikologis sebagai unsur-unsur yang telah dihuni oleh masalah- masalah sosial. Karya sastra terdiri atas narasi dan intensi autorial. Artinya menurut akal sehat, struktur narativitas merupakan rangkaian kalimat sebagai wahana dan pesan pengarang kepada pembaca. Dalam hubungan ini, intensi-intensi penulis, disadari atau tidak, dipahami melalui referensi eksistensi penulis secara aktual, yang pada umumnya dikaitkan dengan unsur-unsur biografinya.
Otoritas intensi autorial, menonjol dalam mode-mode penelitian yang memberikan aksentuasi ciri-ciri ekspresif. Ciri-ciri ekspresif pada umumnya juga mempertahankan mekanisme dialog langsung, dialog linear, dialog-dialog tanpa mediasi, yaitu antara pengarang sebagai subjek kreator dengan peneliti. Satu-satunya manfaat penelitian ekspresif adalah orisinalitas proses kreatif sebagai manifestasi struktur psikologis.
Dihubungkan dengan proposisi Ricoeur (1982: 146), kematian pengarang dengan sendirinya mengubah hubungan-hubungan langsung, hubungan linear antara subjek kreator dengan pembacanya. Dengan kematian subjek kreator, maka karya menjadi pusat perhatian, yang sekaligus berfungsi sebagai tindak menulis dan membaca. Representasi anonimitas subjek dengan sendirinya juga mendapatkan perhatian penting dalam struktur dialogis Bakhtin (Morson,1986:128). Artinya, pengertian yang berkaitan  dengan kematian subjek justru berfungsi untuk menopang intensitas pemahaman, sehingga mekanisme dialogis lebih dirasakan adanya. Diedrick (1993: 609) lebih jauh menjelaskan bahwa intensi-intensi tokoh bukanlah suara-suara autorial tunggal subjek pengarang.
Kematian subjek kreator, kekeliruan biografi, dan intensi-intensi autorial dengan berbagai problematikanya sudah terkandung dalam analisis strukturalisme, yaitu dengan memusnahkan ucapan-ucapan individual (parole), totalitas teks terletak dalam strukturnya, bahasa dilepaskan dari kaitan sosial budayanya.
Dalam diri setiap seniman terkandung dua unsur yang berbeda tetapi saling berhubungan, yaitu: pemikiran konseptual dan kreasi seni, ketaksadaran kolektif dan kesadaran personal. Makna karya seni dengan demikian bukanlah semata-mata merupakan masalah intensi, melainkan juga masalah konvensi. Para seniman mesti memberikan perhatian yang mendalam terhadap kedua unsur, menampilkan dalam posisi yang seimbang, dalam totalitas karya.

2.                  Hakikat dan Totalitas Karya sebagai Manifestasi Struktur Sosial
Penolakan terhadap produksi karya sastra sebagai semata-mata manifestasi subjek kreator secara individual menimbulkan implikasi teoretis, yaitu produksi karya sastra dengan relevansi subjek kolektif.
Hakikat karya sastra sebagai rekaan pada umumnya dianggap sebagai masalah utama dalam ilmu sastra, sekaligus sebagai masalah yang paling banyak dihindarkan dalam analisis ilmu-ilmu sosial. Alasannya, jelas karena rekaan dianggap sebagai khayalan belaka, sebagai gejala psikologis dengan skala kredibilitas yang rendah, dan karena itu mesti dikeluarkan dalam setiap evidensi empiris. Kecurigaan-kecurigaan terhadap hakikat rekaan seperti di atas dapat ditelusuri melalui beberapa faktor, antara lain:
1)                  ketidakjelasan definisi antara khayalan dengan rekaan,
2)                  adanya anggapan mengenai ciri-ciri karya sastra sebagai semata-mata rekaan, dan
3)                  adanya intensitas unsur-unsur objektivitas dalam ilmu-ilmu empiris.

a.                  Heterogenitas Struktur Sosial dan Konsekvensi Transformasi Struktur Epik ke Novelistik
Ciri-ciri ekspresif, polarisasi, bahkan ciri-ciri diametric gejala-gejala sosial, pada dasarnya mengarahkan pada konstruksi baru, yaitu proliferasi gejala-gejala sosial dalam struktur sosial. Merupakan suatu usaha yang mustahil untuk meneliti gejala-gejala sosial secara keseluruhan, sebaliknya, juga tidak mungkin untuk mengamati suatu gejala secara tersendiri. Aksi sosial dalam struktur sosial adalah gejala yang dinamis, berada dalam proses secara terus-menerus. Karena itulah, secara pragmatis, para sosiolog pada umumnya membedakan gejala-gejala sosial menjadi tiga macam, yaitu: fakta sosial, definisi sosial, dan tingkah laku sosial (bdk. Ritzer, 1980: 24). Secara sosiologis, sebagai aktivitas kesadaran, kreativitas selalu ditujukan kepada orang lain, selalu intensional. Fungsi-fungsi keterlibatan orang lain di dalam proses interaksi, dalam interaksi operatif, di satu pihak menyediakan energi, motivasi, dan prasyarat dasar terciptanya makna, yang disebut makna-makna kehidupan sosial. Di pihak yang lain, keterlibatan orang lain berfungsi untuk menopang partisipasi sosial, sekaligus menopang keseimbangan struktur sosialnya. Pada dasarnya, aktivitas kreatif, baik dalam bentuk proses pengamatan dan penciptaan yang dilakukan oleh subjek kreator, maupun proses resepsi yang dilakukan oleh pembaca, secara keseluruhan ditujukan kepada orang lain.
Ciri-ciri ekspresif dan kreatif jelas merupakan milik manusia secara universal, artinya, terjadi di mana saja, dengan tanpa membeda-bedakan ras, agama, pendidikan, dan kelas-kelas sosial. Sebagai fakta sosial, ciri-ciriekspresif dan kreatif juga dianggap memiliki persamaan dalam hubungannya dengan gejala-gejala sosial yang lain. Nilai-nilai estetis yang terkandung dalam karya seni tergantung pada hubungan-hubungan sosial yang terjadi. Nilai-nilai estetis seni bukanlah nilai-nilai yang sudah pasti dan berlaku umum, tetapi ditentukan melalui pemahaman masyarakat, dan dengan demikian maka sifatnya relatif (Al-brecht, 1970: 15-20). Kekayaan dan keragaman fakta-fakta kultural jelas bersifat supraindividual, sebagai milik bersama.
b.                  Karya Sastra sebagai Model Karya Seni yang Lain
Imajinasi dan kreativitas, merupakan ciri-ciri utama karya seni. Karya seni yang tidak menampilkan imajinasi dan kreativitas dianggap bermutu rendah, sebab karya seni tersebut tidak berbeda dengan pengalaman sehari-hari, ilmu pengetahuan, atau karya-karya ilmiah yang lain. Imajinasi dan kreativitas juga dipandang sebagai energy dan motivator dalam produksi karya seni, sebab perkembangan karya seni lebih didasarkan atas kualitas imajinasi dan kreativitas, bukan penemuan-penemuan sejenis yang telah mendahuluinya.
Sebagai respons interaksi sosial, karya sastra jelas membagi dunia yang sama dengan karya seni yang lain. Seni lukis misalnya, dengan media cat menampilkan komposisi warna, garis, dan cahaya, yang secara bersama-sama akan merepresentasikan pandangan dunia kelompoknya, sesuai dengan citra bahasa lukisan tersebut. Produksi seni lukis mengandaikan ekspresi kelompok tertentu, yang memiliki ekuivalensi dengan kualitas sebuah novel, sebuah lagu keroncong, atau sebuah tarian. Karya sastra, meskipun tidak memiliki media warna, garis, dan cahaya, seperti yang terkandung dalam seni lukis, tetapi memiliki media yang lain, yaitu bahasa. Melalui kata-kata, bahasa dapat melukiskan warna, garis, dan cahaya, bahasa juga dapat melukiskan suara musik yang tidak dapat dilihat, bahkan dapat melukiskan gejala-gejala yang semata-mata terjadi dalam pikiran dan perasaan. Kapasitas bahasa mengatasi ruang dan waktu, bahasa menembus batas-batas antarras dan antarbangsa, bahasa dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar