Sabtu, 26 Oktober 2013

PSIKOLINGUISTIK 1



A.  SEJARAH LAHIRNYA PSIKOLINGUISTIK

Psikolinguistik merupakan gabungan antara dua ilmu psikologi dan linguistik . benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke 20 tatkala psikolog Jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (kess, 1992). Pada waktu itu telaah bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang ilmiah. Sementara itu, di Benua Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh, perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap :
1.    Tahap formatif
Pada pertengahan abad ke dua-puluh John W. Gardner, seorang psikolog dari Carnegie Corporation, Amerika mulai menggagas hibridisasi (penggabungan) kedua ilmu ini.kemudian dikembangkan oleh psikolog lain, John B.Carroll, yang pada tahun 1951 menyelenggarakan seminar di Universitas Corrnell untuk merintis keterkaitan antara kedua disiplin ilmu ini.
2.    Tahap linguistik
Perkembangan ilmu linguistik, yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme (yang sering juga disebut mentalisme) pada tahun 1957 dengan diterbuitkannya buku Chomsky, syntactic structures, dan keritik tajam dari Chomsky terhadap teori behavioristik B.F. Skinner (Chomsky 1959) telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang.
3.    Tahap kognitif
Pada tahap ini psikolinguistik mulai mengarah pada peran kogniksi dan landasan-landasan biologis manusia dalam memperoleh bahasa. Pelopor seperti Chomsky  meengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. Pemerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsif-prinsif kognitif. Pada tahap ini orang juga mulai berbicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa biologi merupakan landasan dimana bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lennebrg mengatakan bahwa pertumbuhan bahasa seseorang manusia itu terkait secara genetik dengan pertumbuhan biologinya.
4.    Tahap teori psikolinguistik
Psikolinguistik tidak lagi terdiri dari psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika. Neurologi mempunyai peran yang sangat erat dengan bahasa kerena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukanlah kerena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Ilmu filsafat juga kembali memegam peran karena pemerolehan pengetahuan merupakan masalah yang sudah jaman purba, menjadi perdebatan antara filosof.
Primatologi dan genetika mengkaji sampai seberapa jauh bahasa itu, milik khususnya manusia dan bagaimana genetika terkait dengan pertumbuhan bahasa.
Dengan kata lain psikolinguistik kini tlah menjadi ilmu yang ditopang oleh ilmu-ilmu lain.

B.  DEFENISI PSIKOLINGUISTIK
Psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam mereka berbahasa. Secara rinci psikolinguistik mempelajari empat topik utama.
a.    Komperhensi, yakni proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehingga mereka dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud.
b.    Produksi yakni proses-proses mental pada diri kita yang membuat kita dapat berujar seperti yang kita ujarkan.
c.    Landasan biologis serta neologis yang bisa membuat manusia bisa berbahasa.
d.   Pemerolehan bahasa, yakni bagaimana anak memperoleh bahasa mereka.


C.  KODRAT BAHASA
Kalau kita melihat anak-anak ayam dengan induknya, seringkali kita melihat dan mendengar sang induk mengeluarkan bunya-bunyi tertentu dan dalam waktu sekejap anak-anak ayam yang bersebaran berlari-lari menghampiri sang induk. Setelah kita perhatikan ternyata sang induk mengeluarkan bunyi-bunyi itu untuk memberi tahu anak-anaknya bahwa dia menemukan makanan untuk mareka.
Dari contoh tersebut tampak bahwa anak ayam dapat berkomunikasi satu sama lain, dengan memakai “bahasa “ mereka sendiri. Begitu pula manusia. Kita juga dapat dengan mudah berkomunikasi dengan manusia yang lain dengan memakai bahasa kita.
Ciri yang membedakan bahasa manusia dengan bahasa binatang adalah bahwa manusi itu kreatif.
Misalnya anda belum pernah mendengar kalimat sebelumnya, tetapi anda pasti memahaminya. Bahasa juga dapat diperoleh secara turu- temurun dari satu generasi kegenerasi lain. Hal ini tidak terjadi pada binatang karena pemerolehan “bahasa binatang” bersifat instingtif. Misalnya seekor burung perkutut akan tetap menyuarakan bunyi burung perkutut kalaupun dia dilahirkan dan dibesarkan di masyarakat”.

D.  DEFENISI BAHASA
Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berintraksi dengan sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.

E.   KOMPONEN BAHASA
Pada aliran linguistik manapun bahasa selalu dikatakan memiliki tiga komponen;
1.      Sintaktik
2.      Fonologi
3.      Dan semantik.
Komponen sintaksis menangani ihwal yang berkaitan dengan kata, frasa, kalimat. Berdbeda dengan komponen sintaktik, komponen fonologi bersifat interpretif komponen ini menangani ihwal yang berkaitan dengan bunyi.
Bunyi merupakan simbol lisan yang dipakai oleh manusia untuk menyampaikan apapun yang ingin disampaikan. Dalam komponen fonologi tidak hanya di inventarisasi jumlah dan macam bunyi yang ada pada suatu bahasa tetapi juga bagaimana bunyi-bunyi tadi membentuk suatu sistem dalam bahasa tersebut.
Komponen semantik adalah untuk memperoleh interprestasi semantik barulah kita dapat menghasilkan kalimat yang kita kehendaki

F.   PRAGMATIK
Pragmatik bukanlah salah satu komponen dalam bahasa, ia hanyalah memberikan perspektif kepada bahasa. Karena pragmatik menyangkut makna, seringksli ilmu ini dikacaukan dengan ilmu makna semantik. Pragmatik merujuk kekajian makna dalam interaksi antara seseorang penutur dengan penutur yang lain (Jucker, 1998).

B. BAGAIMANA MANUSIA MEMPERSEPSI UJARAN

1.    Penelitian mengenai persepsi ujaran
Perkembangan penelitian dibidang ini mulai dengan adanya kemajuan dalam bidang teknologi, terutama dengan terciptanya alat telepon. Dari tahun 1936-1939 dudly dari bell telephone laboratory, Amerika mengembangkan mesin yang dinamakan voceder. Mesin ini mulainya adalah untuk menyampaikan signal melalui kabel telephone jarak jauh. Akan tetapi, kualitasnya tidak cukup baik sebagai piranti komunikasi.
2.    Masalah dalam apersepsi ujaran
Kalau dilihat dari jumlah bunyi yang diujarkan, tlah di dapati bahwa untuk bahasa inggris rata-ratanya 2-30 segmen bunyi (fonem) tiap dedik (Ratner dan Gleasen 1998). Karena bunyi dalam bahasa manapun sifatnya sama, maka dapat diduga bahwa orang indonesia juga mengeluarkan jumlah bunyi yang sama tiap detiknya, yakni antara 25-30 bunyi. Dengan demikian tiap kali kita berbicara satu menit kita telah akan mengeluarkan antara 1500-1800 menit.salah seorang wanita seorang peria dan seorang anak juga berbeda-neda. Getar pita suara wanita berkisar antara 200-300/detik, sedangkan untuk peria hanya sekitar 100/detik. Karena itu, karena seorang peria kedengaran lebih “berat”. Suara anak lebih tinggi dari suara wanita karena getaran vita suaranya bisa mencapai 400/detik.
3.    Mekanisme ujaran
Sumber dari bunyi adalah paru-paru. Paru-paru kita berkembang dan berkempis untuk menyedot dan mengeluarkan udara. Melalui saluran ditenggorokan,udara ini keluar melalui mulut atau hidung. Dalam perjalanan melewati mulut atau hidung ini adakalanya udara dibendung oleh salah satu bagian dari mulut kita sebelum kemudian dilepaskan. Hasil bendungan udara inilah yang menghasilkan udara. Udara yang dihembuskan oleh paru-paru kita keluar melewati suatu daerah yang dinamakan daerah glotal. Semua bunyi yang dibuat dengan udara melalui hidung disebut bunyi nasal. Sementara itu bunya yang udara yang keluar melewati mulut dinamakan bunyi oral.

A.  Bagaimana Bunyi Dibuat
Disamping pembagian bunyi memjadi bunyi nasal dan oral seperti dinyatakan diatas, bunyi juga dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu konsonan dan vokal.
a.    Pembuatan bunyi konsonan
Bunyi dibuat dengan memanfaatkan bagian mulut seperti lidah, bibir, dan gigi, bagian-bagian ini dinamakan artikulator. Untuk membuat bunyi konsonan perlu diperhatikan tiga faktor yaitu:
- titik artikulasi yakni tempat dimana artikulator itu berada, berdekatan, atau berlekatan.
- cara artikulasi yakni bagaimana caranya udara dari paru-paru itu kita lepaskan.
- status vita suara yakni dapat terbuka penuh, agak tertutup/tertutup. Bila kita sedang tidak berbicara maka vita suara kita terbuka lebar. Mungucapkan seperti [p,], [t], dan [k] vita suara kita agak terbuka tetapi tidak bergetar. Bunyi yang dihasilkan dengan vita suara yang tidak bergetar dinamakan tak-voisseles.
Bunyi yang dihasilkan dengan vita suara bergetar dinamakan bunyi voice (voiced). Bunyi [b], [d], dan [g], termasuk kedalam kategori ini. Jadi perbedaan antara [p] degan [b], [t], dengan [d], dan [k], dengan [g] hanya terletak pada bergetar atau tidaknya vita suara kita.
b.    Pembuatan bunyi vokal
Kriteria yang dipakai untuk membuat bunyi vokal adalah
-          Tinggi rendahnya lidah
-          Posisi lidah
-          Ketegangan lida
-          Dan bentuk bibir
Karena lidah itu lentur maka lidah dapat digerakkan untuk dinaikkan atau diturunkan. Naik turunnya lidah menyebabkan ukuran rongga mulut berubah, bila lidah berada pada posisi tinggi maka ruang yang akan dilalui oleh udara dari paru-paru menjadi sempit.

c.       Fonotaktik
Tiap bahsa memiliki fungsi sendiri-sendiri untuk menggabungkan fonem untuk menjadi suatu suku dan kemudian kata. Dengan demikian bukan tidak mustahil ada dua bahasa yang berbeda memiliki beberapa fonem yang sama tetapi fonotaktiknya yakni sistem pengaturan fonemnya berbeda
d.      Struktur Sukukata
Suatu Sukukata terdiri dari dua bagian utama yaitu; onset atau pembuka dan rima atau rhyne. Rima terdiri dari nukleus dan koda, suatu suku kata bisa memiliki ketiga-tiganya: onset, nukleus dan koda. Akan tetapi hal ini tidak selalu harus. Nekleus selalu berupa vokal. Konsonan atau konsonan-konsonan yang berada dimuka nekleus dalam satu suku yang sama adalah onset dan yang dibelakang nukleus adalah koda. Dalam suatu suku yang wajib adalah nukleus sedangkan onset atau kodanya bersifat opsional.
Contoh : Ban   : \b\= onset, \a\= nukleus. \n\= koda.
             : Tri     : \tr\= onset, \i\= nukleus.
e.       Fitur Distintif
 Sejak tahun 1940-an, linguis mulai melihat ihwal bunyi dari segi oposisi yang sifatnya biner yaitu sessuatu yang sifatnya iya atau tidak yang ditandai dengan simbol + dan -. Dalam hal ini fonem /p/ dan /b/, misalnya satu-satu fitur yag membedakan kedua fonem ini hanyalah ada tidaknya getaran pada fita suara . Bila ada getaran, fonem itu adalah /b/: bila tidak /p/. Dengan kata lain /b/ adalah (+vois) sedangkan /p/ adalah (-vois). Vois merupakan bunyi yang bunyi yang disertai oleh getaran pada fita suara. Untuk bunyi vokal tidak perlu ada fitur vois karena semua secara otomatis semuanya (+vois).
f.     Voice Onset Time
Suatu kata tentulah memiliki satu suku kata atau lebih. Masing-masing suu terdiri dari beberapa fonem. Kata ban sepeti di atas misalnya terdiri dari tiga fonem yaitu /b/, /a/, dan /n/, transisi dari satu bunyi kebunyi yang lain tentunya memerlukan waktu. Penutur asli suatu bahsa akan dengan sangat tepat mengucapkan bunyi-bunyi dalam bahasa mereka karena VOT mereka adalah akurat. Sebaliknya, seorang yang berbahsa asing pada umumnya tidak dapat setepat penutur asli sehingga dia tetap kedengaran seperti orang asing, meskipun dia sangat fasih dalam berbahasa asing itu.
3.2    Signifikasinya bagi Psikolinguistik
Untuk bunyi dan kata suatu bahasa ditentukan pula oleh bagaimana bunyi-bunyi itu dibuat, fitur-fitur mana yang terlibat, dan bagaimana fitur-fitur itu digabungkan.telinga orang indonesia misalnya, tidak terlatih untuk mendengar bunyi [p] yang diikuti oleh aspirasi (yakni getaran udara yang keras diwaktu kita mengucapkan bunyi tertentu).
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa persepsi kita terhadap bunyi dan gabungan bunyi yang kita dengar ditentukan oleh tilas (trace) neurofisiologis yang telah tertanam pada otak kita.
3.3  Transmisi bunyi
Bunyi yang dikeluarkan oleh manusia ditransmisikan ke telinga pendengar melalui gelombang udara. Pada saat suatu bunyi dikeluarkan, udara tergetar olehnya dan membentuk semacam gelombang. Gelombang yang membawa bunyi ini bergerak dari depan mulut pembicara ke arah telinga pendengar. Dengan mekanisme yang ada pada telinga, manusia menerima bunyi ini dan dengan syaraf-syaraf sensori bunyi ini kemudian “dikirimkan” ke otak untuk diproses dan kemudian ditangkapnya. Pemrosesan di otak dibimbing oleh pengetahuan kita tentang bahasa tesebut, termasuk tentang pengetahuan kita tentang bagaimana bunyi-bunyi itu dibuat dan fitur apa saja yang terlibat.
4.    Persepsi terhadap ujaran
Persepsi tehadap ujaran bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh manusia karena ujaran merupakan suatu aktivitas verbal yang meluncur tanpa ada batas waktu yang jelas antara satu kata dengan kata yang lain. Perhatikan tiga ujaran berikut: (a). Bukan angka, (b) buka nangka, (c) bukan nangka. Meskipun ketiga ujaran tersebut berbeda maknanya satu dari yang lain, dalam pengucapannya ketiga ujaran ini bisa sama [bukanaNka].
 Pada dasarnya ada tiga tahap dalam pemrosesan persepsi bunyi (Clark & Clark,1977).
1.    Tahap auditori: pada tahap ini manusia menerima ujaran sepotong demi sepotong. Ujaran ini kemudian ditanggapi dari segi fitur akustiknya.
2.    Tahap fonetik: bunyi-bunyi ini kemudian kita identifikasi.
Segmen-segmen bunyi ini kemudian kita simpan di memori fonetik. Perbedaan antara memori auditori dengan memori fonetik adalah bahwa pada memori auditori semua variasi alovonik yang ada pada bunyi itu kita simpan sedangkan pada memori fonetik hanya fitur-fitur yang sifatnya fonetik saja.
3.    Tahap fonologis: pada tahap ini mental kita menerapkan aturan fonologis pada deretan bunyi yang kita dengar untuk menentukan apakah bunyi-bunyi tadi sudah mengikuti aturan fonetik yang pada bahasa kita.
5.    Model-model untuk persepsi
Dalam rangka memahami bagaimana manusia mempersepsi bunyi sehingga akhirnya nanti bisa terbentuk kompherensi, para ahli psikolinguistik mengemukakan model-model teoritis yang diharapkan dapat menerangkan bagaimana proses persepsi itu terjadi
a.    Model teori motor untuk mempersepsi ujaran
Model yang diajukan oleh Liberman dkk ini menyatakan bahwa manusia mempersepsi bunyi dengan memakai acuan seperti pada saat dia memproduksi bunyi itu. Namun demikian, bunyi itu akan tetap merupakan fonem yang sama meskipun wujud fonetiknya berbeda.
Persamaan ini disebabkan oleh artikulasinya yang sama pada waktu mengucapkan bunyi tersebut.
b.    Model analisis dengan sintesis
  Dalam model ini dinyatakan bahwa pendengar mempunyai sistem produksi yang dapat mensintesiskan bunyi yang sesuai dengan mekanisme yang ada padanya (Stevens 1960, dan halle 1967 dalam gleason dan ratner1998), waktu dia mendengar deretan bunyi, dia mula-mula mengadakan analisis terhadap bunyi-bunyi itu dari segi fitur distingtif yang ada pada masing-masing bunyi itu.
c.    Fuzzy logical model
Menurut model ini persepsi ujaran terdiri dari tiga proses:
-          Evaluasi fitur
-          Integrasi fitur
-          Dan kesimpulan
Dalam bentuk ini ada bentuk prototipe, yakni bentuk yang memiliki semua nilai yang ideal yang ada pada suatu kata, termasuk fitur-fitur distingtifnya. Informasi dari semua fitur yang masuk di evaluasi, di integrasi, dan kemudian dicocokkan dengan deskripsi dari prototipe yang ada pada memori kita.
Misalnya bila kita mendengar suku yang berbunyi /ba/ maka kita mengaitkannya dengan suku kata ideal, untuk suku ini, semua fitur yang ada pada konsonan /b/ maupun pada vokal /a/.
d.   Model cohort
Model untuk mengenal kata ini terdiri dari dua tahap:
Pertama tahap dimana informasi mengenai fonetik dan akustik bunyi-bunyi pada kata yang kita dengar itu memicu ingatan kita untuk memunculkan kata-kata lain.
Pada tahap kedua terjadilah proses eliminasi secara bertahap, waktu kita mendengar bunyi /r/ maka kata pahala dan pujaan akan tersingkirkan karena bunyi kedua dari kedua kata ini bukanlah /r/ seperti pada kata targetnya.
e.    Model Trace
Model ini mula-mulanya adalah model untuk mempersepsi huruf tetapi kemudian dikembangkan untuk mempersepsi bunyi. Berdasarkan pada pandangan yang koneksionis dan mengikuti proses top-down. Artinya konteks leksikal dapat membantu secara langsung pemrosesan secara perseptual dan secara akustik.
Proses ini terjadi karena tiga tahap:
Tahap tutur, tahap fonem, dan tahap kata. Pada masing-masing tahap ada node-node yang mewakili fitur distingtif, fonem, dan kata. Masing-masing node mempunyai tingkatan yang dinamakan resting, threshold, dan activation. Bila kita mendengar suatu bunyi, maka bunyi ini akan mengaktifkan fitur-fitur distingtif tertentu dan “mengistirahatkan” fitur-fitur distingtif lain yang tidak relevan.
6.    Persepsi ujaran dalam konteks
Bunyi selalu diujarkan secara berurutan dengan bunyi yang lain sehingga bunyi-bunyi itu membentuk semacam deretan bunyi. Lafal bunyi yang diujarkan secara berurutan dengan bunyi yang lain tidak sama dengan lafal bunyi itu bila dilafalkan secara sendiri-sendiri.
Persepsi terhadap suatu bunyi dalam deretan bunyi bisa pula dipengaruhi oleh kecepatan ujaran. Suatu bunyi yang diucapkan dengan bunyi-bunyi yang lain secara cepat akan sedikit banya berubahnya lafalnya.





















BAB III

PENUTUP

A.  KESIMPULAN
Psikolinguistik merupakan gabungan antara dua ilmu psikologi dan linguistik . benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke 20 tatkala psikolog Jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (kess, 1992). Pada waktu itu telaah bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang ilmiah.
Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berintraksi dengan sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.

B.  SARAN
Dalam penyusunan makalah ini kami masih sangat banya kekurangan, maka dari itu kritik dan saran dari teman-teman semuanya masih sangat kami harapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar