Minggu, 21 April 2013

MATA KULIAH PSIKOLOGI SASTRA “Novel Sons And Lovers Melalui Sudut Pandang Akibat dari Oedipus Complex”


BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang
Novel Sons and Lovers karya D.H. Lawrence berkisah tentang sebuah keluarga Mr. Morel, seorang pekerja tambang yang beristri seorang wanita dengan berstatus sosial yang lebih tinggi dari suaminya. Keluarga ini di karuniai beberapa anak yang di antaranya adalah William dan Paul. Karena kondisi ekonomi rumah tangga yang tidak mencukupi membuat suami dan istri kerap bertengkar. Hubungan pasangan ini menjadi tidak harmonis, walaupun sang istri terus melahirkan anak. Akibat hubungan tidak harmonis tersebut membuat si istri, Mrs. Morel mendekatkan diri kepada anak laki-lakinya, William dan Paul. Kedekatan yang tampak tidak lazim ini membuat kedua anak ini selalu bermasalah ketika mereka harus berhubungan dengan gadis sebayanya. Selain itu Mrs. Morel selalu menghalangi hubungan anak laki-lakinya dengan kekasih mereka.
Tahap awal penelitian ini adalah telaah perwatakan para tokoh yang mendukung pemunculan Oedipus Complex dalam diri-diri tokoh William dan Paul Morel dan tahap selanjutnya adalah adanya cerminan konsep rasa bersalah serta konflik batin. Untuk menganalisis karakter para tokoh dalam novel ini, digunakan metode sudut pandang.
Sudut pandang adalah metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang dimana ceritera disampaikan. Sudut pandang persona ketiga –  “diaan” digunakan dalam pengisahan ceritera dengan gaya “dia”. Narrator atau penceritera adalah seseorang yang menampilkan tokoh-tokoh ceritera dengan menyebut nama atau menggunakan kata ganti orang seperti “ia”, “dia” atau “mereka” (Minderop, 2005:96).
Sudut pandang “diaan” mahatahu adalah narrator yang berada di luar ceritera dan bisa pula menjadi tokoh dalam ceritera. Disebut “mahatahu” (an all-knowing presence) karena ia dapat berkisah dengan bebas, mendramatisasi, menginterpretasi, merangkum, berspekulasi, berfilosofi, menilai secara moral atau menghakimi apa yang disampaikannya. Sudut pandang persona ketiga atau penggunaan “diaan” tidak selalu menggunakan kata ganti orang ketiga, tetapi dimungkinkan terjadinya dialog-adanya “kau” dan “aku”. Hal ini terjadi karena si Narator sedang membiarkan para tokoh mengekspresikan dirinya (Minderop, 2005:98).

B.           Masalah
1.            Bagaimana konsep Oedipus Complex dalam novel Sons and Lovers?
2.            Apa penyebab timbulnya Oedipus Complex dalam novel Sons and Lovers?
3.            Apa akibat dari Oedipus Complex dalam novel Sons and Lovers?


BAB II
PEMBAHASAN
1.            Konsep Oedipus Complex
Cerminan konsep Oedipus Complex yang dibahas di sini mencakup para tokoh William dan Paul Morel yang terdapat dalam novel Sons and Lovers karya D.H. Lawrence. Konsep ini mengacu pada tokoh William dan Paul sebagai “kekasih” GertrudecMorel, sang Ibu:
a.             Hubungan mesra Ibu dan Anak Mendambakan Peran Ayah
William menjelaskan bahwa kepergiannya berdansa dengan teman perempuan sekedar bersenang-senang dan ia tidak mencintai temannya itu. William mengatakan bahwa ia tidak akan pernah menikah, kecuali bila ia menemukan perempuan seperti Ibunya.
Ibu dan anak berjalan-jalan dan merasakan kebahagiaan seakan-akan sepasang kekasih yang menikmati perjalanan bersama.
Setelah Paul berdebat dengan Ibunya dan Mrs. Morel merasa tersinggung, Paul merasa tegang karena ia menyadari bahwa sesungguhnya hidupnya hanya untuk Ibunya, Mrs. Morel adalah segala-galanya.
Dalam kondisi bersedih, Paul beranjak menuju ke kamar tidurnya sambil menunduk mencium Ibunya, sang Ibu memeluk lehernya, memendamkan wajahnya di bahu Paul seraya menangis dengan suara tersedan ia berkata bahwa ia tidak rela melepaskan anaknya kepada Mirriam karena ia akan tersisih. Paul serta-merta sangat membenci Mirriam.
Dalam novel Sons and Lovers, perilaku yang mencerminkan keinginan memiliki Ibu tampak dalam perwatakan tokoh William Morel dan Paul Morel.
William memberikan semua uangnya kepada Ibunya, kemudian Mrs. Morel membagi uang tersebut sebagian kepada anaknya.
Kedekatan Paul dengan Ibunya menggantikan posisi Kakaknya, William, yang telah meninggal dunia. Ia bersikap sangat baik dengan memberikan berbagai hadiah kepada Ibunya dan berjanji tidak akan menikah.
Kepergian William ke London digantikan oleh keberadaan Paul, adik William yang juga sangat dekat dengan Ibunya.
Keinginan Paul menafkahi Ibunya dan berjanji tidak akan menikah.
Paul meniti karir sebagai pelukis dan apa yang dilakukannya, demi sang Ibu dan keduanya saling mengisi.
Paul senag tidur bersama Ibunya karna merasa nyaman dan terlindungi oleh kehangatan Ibunya.
Paul berjalan-jalan bersama Ibunya, saat ketika ia merasa seakan-akan bersama kekasih. Ia terus memperhatikan sikap ibunya yang senantiasa menumbuhkan perasaan teramat sayang kepada Ibunya. Di balik itu, ia merasa pedih di hati karena kecintaannya kepada si Ibu ketika ia memperhatikan dompet dan kaos tangan Ibunya yang telah usang.
Paul merasa bosan. Cintanya yang paling mendalam tertuju kepada Ibunya dan bila ia telah merasa menyakiti perasaan Ibunya, ia merasa sangat terbebani.
Paul selalu harus kembali kepada Ibunya karena ia merasa sangat melekat padanya.
Ketika Ibunya mengatakan bahwa ia serasa tidak pernah memiliki suami, Paul mencium leher Ibunya. Paul berkata bahwa ia tidak mencintai Mirriam. Paul memeluk Ibunya kemudian si Ibu dengan mesra menciumnya. Mereka tampak sebagai sepasang kekasih.
Mrs. Morel mengidap penyakit kanker. Paul dan Ibunya sama-sama merasa kuatir karena mereka berprasangka bahwa tidak lama lagi mereka akan berpisah. Saat-saat terakhir mereka lalui bersama. Paul selalu mendampingi dan merawat Ibunya; mereka seakan-akan sepasang kekasih.
Paul merawat Ibunya ketika ia sakit dan Paul sangat menyayangi si Ibu melebihi sayangnya terhadap diri sendiri.
Mrs. Morel yang mengidap penyakit kanker tak tertolong dan akhirnya meninggal dunia. Paul merasa sangat terpukul, seakan-akan tidak menerima kepergian Ibu untuk selama-lamanya. Ia menatap wajah sang Mrs. Morel dan mencium jasad si Ibu yang terbujur dingin.
b.            Kecemburuan kepada Ayah dan Saudara Laki-laki
Baik William dan Paul kerap merasa saling cemburu karena mereka berebut kasih sayang sang Ibu.
Ketika Paul dan Ibu berjalan-jalan ke Lincoln, Paul sangat erat menjaga Ibunya, seakan-akan mengikatnya. Ia juga membelikan violet untuk Ibunya dan menyematkan bunga di bajunya.
c.             Hukuman dari Ayah
Dalam novel Sons and Lovers para tokoh anak laki-laki mendapat hukuman dari Ayah.
Si Ayah bersikap kasar sehingga membuat kepala anaknya berdarah.
Karena sikap sang Ayah yang terlalu kasar terhadap anak-anaknya, membuat mereka merasa tertekan bila si Ayah berada di rumah, mereka bingung tak tahu apa yang harus dilakukan.
Anak-anak menjadi terdiam bila mendengar suara tapak kaki tanda kedatangan Ayahnya karena mereka ketakutan terhadap Ayah.
Mr. Morel selalu tidak sabar bila mendengar anaknya menangis dan seraya berteriak mengancam si anak.
Mr. Morel kerap bersikap keras kepada anaknya dan selalu mengulangi perbuatannya sehingga membuat si anak menderita, walaupun diperingatkan oleh istrinya.
d.            Tidak Menyukai dan Membenci Figur Ayah
Anak-anak tidak menyukai ayah mereka, terutama Paul.
Paul membenci Ayahnya dan kerap berdoa agar Ayahnya meninggal dunia.
Dapat dikatakan tidak pernah ada komunikasi antar anggota keluarga dengan sang Ayah. Si Ayah seolah-olah seperti orang asing di dalam keluarga.

2.            Latar Belakang Lahirnya Oedipus Complex
Memerhatikan perilaku para tokoh dalam novel Sons and Lovers, dapat disimak bahwa latar belakang maraknya Oedipus Complex bisa dipengaruhi oleh kondisi kehidupan keluarga Mr. Morel. Hubungan suami istri yang tidak harmonis yang disebabkan antara lain, masalah kesenjangan pendidikan antara suami dan istri serta masalah ekonomi cukup berpengaruh untuk timbulnya berbagai konflik di dalam rumah tangga.
Akibat dari konflik antara suami dan istri memengaruhi perilaku anak terhadap orang tua mereka. Dalam hal ini lebih mendekatkan diri kepada Ibunya, dan sebaliknya, seraya anak-anak membenci Ayahnya. Kebencian ini timbul karena kerasnya sikap sang Ayah terhadap anak laki-lakinya. Pada akhirnya, si Ibu mendekatkan diri kepada anak-anak laki-lakinya; sedangkan si Ayah hidup di dalam dunianya sendiri. Penjelasan mengenai latar belakang timbulnya Oedipus Complex sebagaimana berikut ini.

a.             Kehidupan Mr. dan Mrs. Morel Diwarnai Konflik
Mr. dan Mrs. Morel mulai merasa tidak nyaman mengarungi rumah tangga mereka.
Sikap Mrs. Morel berubah menjadi tidak hangat terhadap suaminya.
Ketika istrinya sakit sehabis melahirkan, Mr. Morel bersikap manis terhadap istrinya, namun si istri merasa kesepian.
Akhirnya Mrs. Morel mengabaikan suaminya, demikian pula sang suami.
Mr. dan Mrs. Morel mulai bertengkar karena adanya perbedaan pandangan hidup.
Suami dan istri ini bertengkar hebat dan sang istri merasa teramat sedih dan menyembunyikan wajahnya di bahu si bayi, William sambil meratap seakan-akan berlindung. Dialog yang tercantum di bawah ini merupakan cakupan dari teknik pencitraan “diaan” mahatahu, ketika si narrator membiarkan para tokoh mengekspresikan diri mereka.
Mrs. Morel stood still. It was her first baby. She went very white, and was unable to speak.
“What dost think on “im?” Morel laughed uneasily.
She gripped her two fists, lifted them, and came forward. Morel shrank back.
“I could kill you, I could!” she said. She choked with rage, her two fists uplifted.
“Yer non want ter make a wench on “im,” Morel said, in a frightened tone, bending his head to shield his eyes from hers. His attempt at laughter had vanished.
The mother looked down the jagged, close clipped head of her child. She put her hands on his hair, and stroked and fondled his head.
“Oh – my boy! –“ she faltered. Her lip trembled, her face broke, and, snatching up the child, she buried her face in his shouder and cried painfully (Lawrence, 2000:24).
Masalah biaya hidup memperparah kondisi rumah tangga Mr. dan Mrs. Morel, si suami tidak memperhatikan kebutuhan anak-anak, lebih dari itu, ia menghabiskan uang untuk membeli minuman keras selain untuk kebutuhan pribadi.
Mr. Morel merasa tidak nyaman dan jenuh tinggal bersama istrinya; demikian pula istrinya.

b.            Mrs. Morel Sangat Menyayangi Putera-Puteranya
Mrs. Morel sangat menyayangi William dan menganggapnya sebagai seorang pria dewasa yang mampu memberikan kebahagiaan pada dirinya.
Sikap Mrs. Morel yang sangat menyayangi William, menggantungkan kehidupannya padanya, melayani kebutuhannya, membuat si anak pun merasa bangga. Kondisi ini membuatnya sulit berpisah dengan anaknya. Mrs Morel selalu mengenangnya sehingga membuatnya amat bersedih.
c.             Mrs. Morel Mengekang Pergaulan Putera-Puteranya
Mrs. Morel tidak berkenan membiarkan William bergaul dengan teman perempuannya, terlebih lagi ketika ia mengetahui perempuan tersebut pernah berdansa dengan anaknya.
Mrs. Morel merasa benci kepada Mirriam karena ia membuat Paul menjadi tidak ceria.
Mrs. Morel merasa tidak senang mengetahui kedekatan Paul dengan Mirriam, ia tampak cemburu walaupun Paul menegaskan bahwa ia tidak mencintai Mirriam.
Sikap Mrs. Morel yang tidak menerima pergaulan Paul dengan gadis lain, memicu perdebatan dengan anaknya, sehingga membuat Mrs. Morel bersedih. Mrs. Morel merajuk dan cemburu ketika Paul mengatakan ia sudah lanjut usia dan berbeda kesenangan.
Mrs. Morel sangat membenci Mirriam yang berupaya merebut hati anaknya.
3.            Akibat dari Oedipus Complex
Akibat dari Oedipus Complex yang diidap oleh tokoh Paul, membuatnya selalu dihantui rasa bersalah. Paul merasa telah mengkhianati Ibunya karena ia pernah bergaul dengan perempuan lain. Setelah kepergian sang Ibu untuk selama-lamanya, Paul merasa kesepian, kesedihan, dan putus asa sampai-sampai ia berniat untuk mengakhiri hidup. Perasaan bersalah yang paling mengganggu membuatnya menghukum diri sendiri yang berimplikasi berkembangnya gangguan-gangguan kepribadian.
Paul mengalami halusinasi negatif. Ia tidak mengenal ruang dan waktu, ia menjadi bingung dan pelupa; kadang-kadang ia hilang ingatan serta tidak mampu membedakan sesuatu. Ia juga mengalami halusinasi pendengaran dan konflik batin.
Paul mengalami halusinasi pendengaran, sebagaimana dikatakan oleh Krech: Ia tidak mengenal sesuatu pun, walaupun ia melihat. Ia mengalami kesulitan tidur dan dihantui oleh perasaan dan pendengarannya sendiri; ia tidak tahu di mana ia berada, Paul mengalami disorientasi.
a.             Cerminan Rasa Bersalah
Perasaan bersalah dalam diri tokoh Paul Morel. Setelah terhalang bergaul dengan Mirriam, Paul selanjutnya bergaul dengan Clara, seorang wanita yang telah bersuami dan berusia lebih tua ketimbang dirinya. Mereka bahkan bergaul sangat intim (Lawrence, 2000:385-390). Paul sangat menyembunyikan kehidupan seksnya dengan wanita ini di hadapan Ibunya. Dikatakannya, ia lebih baik mati daripada Ibunya harus mengetahui hubungan seksnya dengan Clara. Paul mengalami rasa bersalah karena di satu sisi ia melakukan hubungan intim dengan wanita lain, namun di sisi lain ia selalu merasa bersalah terhadap Ibunya. Kadang-kala ia ingin melepaskan diri dari baying-bayang ibunya, namun sngat sulit, ia mengalami konflik batin.
Paul sulit bergaul akrab dengan teman wanitanya, Mirriam, karena ia selalu dibayangi sosok Ibunya bila ia berniat untuk lebih intim dengan Mirriam. Paul seakan-akan merasa bersalah bila ia membiarkan hatinya tertambat pada wanita lain.
b.            Menghukum Diri Sendiri
Oedipus Complex dalam novel Sons and Lovers melahirkan sikap menghukum diri sendiri, terutama seperti yang dialami tokoh Paul. Sebagaimana dijelaskan terdahulu, konsep menghukum diri sendiri karena adanya rasa bersalah yang paling mengganggu-sebagaimana terdapat dalam sikap menghukum diri sendiri-si individu terlihat sebagai sumber dari sikap bersalah. Rasa bersalah jenis ini mempunyai implikasi terhadap berkembangnya gangguan-ganggua kepribadian yang terkait dengan kepribadian, penyakit mental dan psikoterapi (Krench, 1974:476-477).
Perasaan bersalah yang paling mengganggu sebagaimana terdapat dalam sikap menghukum diri sendiri-adalah ketika si individu merasa sebagai sumber sikap bersalah. Rasa bersalah jenis ini mempunyai implikasi terhadap berkembangnya gangguan-ganggua kepribadian yang terkait dengan kepribadian, penyakit mental dan psikoterapi.
c.             Kepribadian dan Perasaan Tak Berdaya
Setelah kepergian sang Ibu untuk selama-lamanya, Paul merasakan kesepian dan kesedihan luar biasa. Selama ini Paul selalu mendapat dukungan dari Ibunya dan selamanya hidup ia selalu menyayangi si Ibu. Paul merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidup, ia ingin ada seseorang yang secara suka rela menolongnya.
d.            Ganngguan Kepribadian
Halusinasi negatif atau negative hallucination, where a subject does not see an object that is actually and unmistakably there (Krech, et al., 1974:510). Ia mengalami halusinasi sebagaimana konsep ini:
He may often be subject to hallucinations in which he hears voices or sees vision, or he may suffer distorsions of normal perceptual experience. He may exhibit bizarre behavior, confused thought and chaotic speech (Krech et al., 1974:601).
Ia juga dibayangi oleh naluri kematian seperti yang terdapat dalam konsep berikut ini: keinginan untuk mati (death wish) bisa ditimbulkan oleh misalnya, kebebasan yang terhalang dan keinginan untuk lepas dari beban. Si individu tidak setuju dengan keinginan tersebut karena adanya hakikat kehidupan. Ia mengalami pertentangan antara keinginan untuk bebas dari beban dan kekuatiran akan keinginan tersebut karena dapat mengancam dirinya (Hilgard et al., 1975:499)
Paul merasa malu atas keberadaannya. Ia merasa hampa, tak berharga dan selalu dibayangi rasa kematian.
Paul mengalami halusinasi negatif. Ia tidak mengenal ruang dan waktu, ia menjadi bingung dan pelupa; kadang-kadang ia hilang ingatan serta tidak mampu membedakan sesuatu.
Paul mengalami halusinasi pendengaran sebagaimana dikatakan oleh Krech: Ia tidak mengenal sesuatu pun, walaupun ia melihat. Ia mengalami kesulitan tidur dan dihantui oleh perasaan dan pendengarannya sendiri; ia tidak tahu di mana ia berada, Paul mengalami disorientasi.
Paul mengalami halusinasi pendengaran, ia banyak bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya, kerap berbicara sendiri dan mengalami naluri kematian.
“What am I doing?”
And out the semi-intoxicated trance came the answer.
“Distroying myself”.
Then a dull, live feeling, gone in as instant, told him that it was wrong. After a while, suddently, came the question:
“Why wrong?”
Again there was no answer, but a stroke of hot stubbornness inside his chest resisted own annihilation.
…Then, quite mechanically and more distinctly, the conversation began again inside him.
“She’s dead-what was it all for-her strunggle-?”
That was his despair wanting to after her.
“You’re alive.”
“She’s not.”
“She is-in you.”
Suddently he felt tired with the burden of it (Lawrence, 2000:456).
Selain tubuhnya bertambah kurus dan penampilannya yang lusuh membuatnya tak berani menatap cermin. Naluri kematian yang dialami Paul bertambah tajam.
e.             Konflik Batin
Paul mengalami konflik batin dalam menjalani kehidupan selanjutnya, pertarungan antara naluri kematian dan kehidupan. Ia mencoba untuk tegar dan tidak larut dalam kesedihan serta berupaya melupakan Ibunya.


BAB III
PENUTUP
A.          Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis terhadap novel Sons and Lovers karya Lawrence D.H., termasuk penjelasan tentang sebab dan akibat timbulnya Oedipus Complex, dapat disimpulkan bahwa:
1.            Konsep Oedipus Complex dalam novel Sons and Lovers mengacu pada tokoh William dan Paul sebagai “kekasih” Gertrude Morel”, sang Ibu.
2.            Penyebab dari timbulnya Oedipus Complex dalam novel Sons and Lovers adalah diawali dengan hubungan yang tidak harmonis dalam rumah tangga Mr. dan Mrs. Morel. Ketidakharmonisan tersebut lebih banyak disebabkan oleh masalah ekonomi dan kebiasaan si suami yang gemar mengkonsumsi minuman keras yang membuat si istri merasa jengkel kepada suaminya. Kondisi ini membuat si Ibu mengalihkan rasa cinta kepada kedua anak laki-lakinya.
3.            Akibat dari Oedipus Complex dalam novel Sons and Lovers, tokoh Paul selalu dihantui rasa bersalah, mengalami halusinasi negatif, mengalami halusinasi pendengaran, melahirkan sikap menghukum diri sendiri, merasakan kesepian dan kesedihan luar biasa, dan mengalami konflik batin.

B.           Saran
Untuk menghindari terjadinya Oedipus Complex dengan masalah seperti pada novel Sons and Lovers, sebaiknya seorang Ibu menghindari hal-hal sebagai berikut:
1.            Pengalihan rasa cinta yang berlebihan terhadap anak laki-lakinya. Karena masalah rumah tangga seperti pada novel Sons and Lovers tersebut dapat diatasi dengan musyawarah, dan jika seorang Ayah tidak lagi dapat dirubah sikapnya, ambil tindakan untuk mengakhiri hubungan denga perceraian secara baik-baik agar tidak berpengaruh buruk pula bagi anak.
2.            Jangan terlalu mengekang anak laki-laki untuk bergaul dengan teman perempuannya sejak usia dini. Hal ini dapat mengakibatkan seorang anak akan terpatri rasa takut, dan perasaan bersalah saat melakukan hal tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar